14.6.16

Will be continued?

Pada malam itu aku menatap bulan melalui bingkai jendela rumah, bulan itu tampak terang berderang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Semakin ku lihat cahaya bulan itu, semakin ku teringat akan dirinya. “Apa kau saat ini sedang menatap bulan itu?” atau bahkan mungkin kau tidak memperdulikan bulan itu?, ya, aku berharap kau memperdulikan bulan itu. Malam ini aku mensyukuri banyak hal, selain masih diberi kesempatan menatap bulan yang indah ini, terutama saat ini aku bersyukur atas kesempatan untuk mengenal dirinya walaupun belum sempat berkenalan langsung karena aku hanya berpapasan dengannya. Sama sekali tidak ada prasangka apapun ketika aku berjalan di taman kota sore itu, karena setiap kali berjalan ke taman itu tidak ada sesuatu hal yang spesial. Hanya berjalan melihat pemandangan, anak-anak yang sedang bermain, dan para pasangan yang sedang menghabiskan waktu senja mereka. Dan seperti biasanya aku berjalan sendiri ditemani makanan yang aku beli di tempat jajanan sekitar taman dan juga air mineral yang aku bawa dari rumah. Sesuatu yang menyenangkan bagiku berkunjung ke taman kota dan aku melakukan aktivitas ini setidaknya tiga kali seminggu karena saat ini aku sudah di bangku kuliah dan memiliki waktu lebih, tidak seperti waktu sekolah yang hanya libur dua hari. Pada akhirnya aku menutup malam ini dengan berdoa agar suatu saat aku akan bertemu dengannya lagi. Karena semakin ku ingat semakin aku penasaran dengan dia.
***
Kring… kring… kring…. Alarm berbunyi.
Aku pergi ke kampus, seperti biasa aku menjadi salah satu orang yang terlalu awal datang ke kelas. Dikelas sudah ada 2 orang temanku yang memang sudah menjadi langganan datang awal. Biasanya aku menghabiskan waktu di kampus hanya setengah hari dan selebihnya kadang aku berkumpul dengan teman-teman atau langsung pulang ke rumah bila tidak ada tugas tambahan. Dalam hal bergaul aku bisa dibilang sebagai orang yang easy going karena aku biasanya bisa berbaur dengan siapa saja jadi aku tidak terlalu merasa kesepian, namun aku juga membatasi waktu untuk orang lain dan waktu untukku sendiri atau me-time. Karena aku tidak ingin saat aku ingin merileksasikan pikiran ada yang menganggunya. Oleh karena itu kalau aku pergi jalan-jalan ke taman kota aku hanya sendiri dan jarang sekali mengajak teman kalau memang tidak ada event di taman kota yang seru untuk dinikmati bersama teman-teman. 
            ***
Hari libur pun datang, aku sangat bersemangat sekali memulai hari ini karena hari ini jadwalku adalah pergi ke taman kota. Ku siapkan botol air minum, handuk wajah, dan siap untuk berangkat. Ku kayuh pedal sepedaku sambil mendengarkan lagu dari telepon genggamku dan melihat-lihat jalanan yang ramai oleh kendaraan. Setelah sampai, ku taruh sepeda dan mulai berlari kecil memutari taman kota. Namanya juga hari libur, pasti lebih ramai dari hari biasa karena orang-orang yang sudah bekerja pasti hanya punya waktu senggang saat hari libur jadi di manfaatkan untuk berolahraga. Setelah satu jam beraktivitas, aku memutuskan untuk duduk di bangku taman dan menikmati bekal yang ibuku telah siapkan. Menggunakan fasilitas yang ada di tempat tinggal kita seperti taman kota memang begitu menyenangkan karena kita dapat menikmati indahnya alam dan bersosialisasi dengan sesama penduduk disini. Saat suapan roti terakhirku datanglah seseorang dan langsung menempati bangku yang sedang aku duduki.
Dia memberi salam tanda meminta ijin untuk duduk disampingku, aku menoleh untuk memberi salam. Namun.. bukannya langsung menjawab salamnya aku hanya bisa terdiam dan tidak berkutik sedikitpun. Itu karena orang yang memberiku salam tadi adalah orang yang beberapa waktu lalu sempat membuat pikiranku tidak karuan. Dengan menjawab salam terbata-bata aku langsung mengembalikan posisi duduk ku seperti semula namun aku merasa bangku yang aku duduki ini lebih kaku dari sebelumnya atau mungkin ini efek dari orang tersebut??
Ku lihat jam tangan, waktu menunjukkan pukul 08.50 pagi, aku biasanya sudah menuju tempat parkir sepeda dan bergegas pulang kerumah. Tapi ini?? Semakin aku melihat jam semakin aku merasa waktu berjalan sangat lama, dan aku merasa tidak bisa berkutik dan seperti orang yang salah tingkah dan tidak jelas. Orang itu masih sibuk dengan gadgetnya dan headset di telinganya. Jantung ku terasa berdebar-debar melebihi waktu pertama kali aku melihatnya di taman itu mungkin karena aku melihatnya dari kejauhan dan tidak sedekat ini. Sudah tak terhitung banyaknya keringat yang keluar, mungkin melebihi keringat atlit lari. Aku semakin bingung dalam bersikap, padahal di lain sisi dia tenang sekali. Dan akhirnya aku memutuskan untuk pergi dengan langkah yang ku coba perbesar dan berusaha tidak melihat ke belakang untuk apapun yang terjadi.
Sampai lah aku di tempat parkir sepeda, lega rasanya lepas dari kejadian tadi. Aku menenangkan diri sejenak dengan menarik nafas dalam-dalam. Lalu ku buka gembok sepeda dan mengeluarkannya. Bugh! Aku terjatuh dan saat aku melihat ke atas ada seseorang yang sedang menopangku, aku langsung tersentak dan berdiri.
“Kamu baik-baik saja?”
“Oh, ya, semuanya baik-baik saja.”
Dia pun membantuku untuk mengangkat sepeda, dan dia berkata kalau dia hanya ingin mengembalikan botol minum yang tertinggal di bangku taman. Aku pun mengambilnya dan mengucapkan terima kasih. Berkat insiden tadi, dia memutuskan untuk mengantarkan aku kerumah sambil membawa sepedaku karena katanya tidak enak karena telah membuat aku kaget dan terjatuh. Aku menyetujuinya. Kami berjalan menyusuri jalan kompleks perumahan, dan seketika itu kami mengobrol. Dan aku baru tahu dia juga seumuran denganku, dan sekarang dia sedang kuliah di luar kota namun saat ini sedang ada libur. Dia juga ternyata tinggal di blok sebelah. Kami asyik mengobrol sampai-sampai tidak sadar kalau sudah sampai depan rumahku, akhirnya pertemuan itu berakhir namun tidak sepenuhnya berakhir karena kami merencanakan untuk berolahraga bersama pekan depan dan kami pun sudah bertukar nomor handphone dan juga akun sosial media. Betapa senangnya hatiku, benar-benar dibuat melayang.
***
Setelah bersih-bersih aku langsung membuka handphone dan ku cari akun dia. KETEMU! Aku mencari akun path dan instagramnya, visit profilnya dan aku cari tahu apa saja aktivitasnya. Dan ternyata dia mengikuti berbagai kegiatan di kampusnya, keren! Pikirku. Setelah beberapa saat stalking akunnya aku pun menaruh handphone dan lanjut menonton serial kartun favorit di TV yang tidak boleh terlewat. Saat menonton TV, tiba-tiba aku teringat akan kejadian di taman. Menjadikan aku senyum sendiri dan aku seperti dibuat mabuk kepayang olehnya.
            ***
            Setiap malam aku terus memikirkannya, padahal belum tentu dia juga sedang memikirkanku. Semakin memikirkannya semakin aku merasa bahagia dan senang. Berulang kali wajahnya terbayang di pikiranku, matanya..hidungnya..rambutnya.. semua itu tampak jelas di pikiranku. Apa ini cinta?? Aku tidak tahu pasti, tapi yang aku rasakan saat ini hanya sebuah kebahagiaan dan rasa berdebar setiap mengingat dirinya. Aku penasaran apa dia juga merasakan apa yang aku rasakan sekarang? Karena setelah pertemuan itu dia sama sekali tidak ‘mencoba’ menghubungiku walau itu hanya sekedar menanyakan tentang rencana kami untuk berolahraga bersama. Ya, aku hanya bisa berharap bahwa dia setidaknya memikirkan ku walau sedikit.
***
I’ll be your sun and moon tonight.. I can be what ever you like..
Dering lagu Maroon 5 itu menandakan ada telepon masuk ke handphone ku, ku lihat ternyata nomor dia. Aku lupa memberi tahu namanya, namanya Ricky. Aku sempat bingung untuk mengangkat teleponnya. Sampai akhirnya aku berani untuk mengangkat namun saying dering teleponnya mati, ada rasa kecewa karena terlambat untuk mengangkat teleponnya. Aku menunggu dia menelpon lagi, namun ternyata itu tidak terjadi. Bodoh sekali aku sampai melewatkan moment yang langka tersebut tapi sayang semua sudah terjadi dan dia tidak menelpon lagi. Ini membuat aku menjadi kepikiran dia lagi, bagaimana tidak, aku yang sedang memikirkannya tiba-tiba mendapat telepon dari Ricky tapi aku tidak mengangkatnya. Mungkin sekarang dia berpikir kalau aku ini orang yang sombong atau apapun yang membuat pamorku menjadi jelek dimatanya. Sepertinya aku sudah menyerah untuk memikirkan dia lagi, memang terlalu cepat untuk menyerah namun ini memang jalan yang terbaik karena sosok dirinya itu bagaikan sosok yang hanya bayangan.
            ***
Datanglah hari dimana hari ini adalah rencana kami untuk berolahraga bersama. Seperti biasa aku pergi ke taman sendiri tanpa memikirkan dia datang atau tidak. Aku memutari jalur taman kota dengan berlari kecil. Dalam perjalanan, tidak sengaja aku tersandung batu kerikil kecil dan brukk! Ku pergi ke bangku taman karena aku merasa lututku terasa luka. Namun luka ini mungkin terasa tidak terlalu sakit saat aku melihat Ricky sedang berlari kecil dan dia tidak menyadari keberadaanku. Tanpa pikir panjang aku pergi dari taman kota dan pulang kerumah. Sampai dirumah aku mengecheck handphone dan ternyata ada pesan dari Ricky menanyakan tentang rencana olahraga bersama dan itu ternyata dia mengirim pesan setelah aku berangkat ke taman kota. Aku membiarkannya dan ku rawat luka di lututku dengan perban. Pada siang harinya handphone ku berbunyi dan yang menelpon adalah Ricky. Aku mengangkatnya. Dan dia mengatakan bahwa dia menunggu ku di taman namun dia tidak melihatku dimana-mana. Aku menjawab aku baru melihat pesannya ketika aku sudah selesai jogging ditaman. Akhirnya dia memutuskan untuk berkunjung kerumahku setelah dia jogging nanti.
Saat dirumah, aku menghampirinya dan kami mengobrol ringan ditemani makanan dan minuman kecil yang aku hidangkan untuknya. Dia mengatakan kalau waktu itu dia menelpon dan aku tidak mengangkatnya, dia menganggap kalau aku sedang sibuk jadi dia tidak menghubungiku lagi dan pada hari ini ketika kami berencana janjian untuk berolahraga bersama, dia bingung karena aku tidak merespon pesannya sama sekali. Disitu aku merasa bersalah, dan mengklarifikasi tentang apa yang terjadi sebenarnya ketika aku tidak merespon pesannya. Setelah itu kami mengobrol sampai bertukar cerita satu sama lain. Semakin lama waktu berjalan, kami semakin asyik mengobrol sampai tidak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang dan dia pun pamit untuk pulang.
***


Dari hari itu, kami semakin akrab, saling berhubungan lewat akun media sosial dan pada akhir pekan kami selalu berolahraga bersama. Semua hal tentang dirinya begitu terasa sama denganku. Kami berbagi kegiatan maupun hobi kami. Semua ini seperti mimpi, dari yang hanya sekedar mengagumi dari belakang, berkenalan, dan sekarang menjalin suatu hubungan yang lebih spesial. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, namun aku tahu sesuatu bahwa aku beruntung memilikinya saat ini. Berbagi waktu bersama baik senang maupun dalam duka. Dan aku berharap dapat berbagi hidup dengannya sampai aku mati bersamanya.