13.12.14

Jika Kita Tidak Bertemu Lagi..


***

E
mbun dipagi buta, menebarkan bau basah... kutipan lirik lagu yang pernah menjadi booming dikalangan teman-temanku ini emang pas banget buat mendeskripsikan suasana pagi. Ya, memang semalam hujan deres banget sampai kolam ikan samping rumah kepenuhan dan para ikan beserta embel-embelnya mencuat keluar menuju zona bahaya. So, pantes saja kalau embun pagi belakangan ini terlalu menebarkan bau basah. Aku minum susu coklat yang sudah sedari tadi gak aku hirauin, karena takut keburu dingin (bukan berarti bakal muncul es dalam gelasnya -_-). Hari ini terasa lebih santai dari hari biasanya, because today is WEEKEND!!! Dimana aku bisa lupain “sejenak” tugas-tugas dari dosen yang gak ada abisnya. Bergelut terus dengan yang namanya makalah dan presentasi dengan deadline satu minggu setelah pembagian judul makalah yang sebenarnya sudah mual level 3, macam mie buto ijo didaerah Jawa yang level tertinggi pedasnya yaitu level 3 dengan 54 cabe rawit. Bisa dibayangkan efeknya seperti apa. Aku beranjak dari meja makan dan menuju bantalan kapuk berbalut kain dan menonton acara ditelevisi. Ditengah tontonan, hp ku berbunyi pertanda ada pesan yang masuk dan aku tau pesan dari siapa itu. “Len, don’t forget our meet up okay!^^” . akupun bergegas mandi dan segala macam. Sebagai anak yang baik, tak lupa untuk berpamitan dengan orangtuaku yang sedang bercengkrama di taman belakang rumah.
Girl’s time!!! Sesuai dengan judulnya sekarang waktunya hangout bareng temen-temen. Mereka sudah menunggu didepan rumah dan kami pun bergegas pergi menuju mall. Dan kini saatnya aku memperkenalkan mereka, ya, sahabat-sahabatku. Samping kanan dikursi kemudi ada Syabil, dia anak juragan tanah. Tanah orangtuanya tersebar diseluruh pelosok Indonesia. Aku sempat heran kenapa Syabil lebih memilih melanjutkan studinya dikampus ini, yang aku rasa dia pasti bakal dapat yang lebih baik dan lebih bagus. Saat aku menanyakan hal itu, hanya senyuman penuh misteri pertanda kalau aku tidak usah menanyakan hal itu lagi. Lalu dibangku belakang ada si chiby marukocan, Rachel. Sebenarnya aku dan dia teman sewaktu taman kanak-kanak dan baru bertemu lagi saat masuk sekolah menengah atas. Sesampainya kami di sebuah resto yang baru saja launching minggu kemarin, kami memastikan kalau kami adalah pelanggan pertama hari ini.
            “Mba, apa semua yang ada didaftar menu sudah bisa dipesan?”
            “Sudah, mau pesan apa?”
            “Bla..bla...blaa...”
Aku bertanya seperti itu karena takut resto ini memang benar-benar baru buka. Aku lihat raut wajah Rachel yang mungkin tidak sabar menunggu hidangan datang. Aku heran, dia mempunyai badan yang tidak terlalu berisi dengan pipinya yang chubby tapi punya porsi makan yang sangat besar dan entah kemana larinya makanan-makanan itu. Sudah terhitung empat tahun kami menjalin pertemanan. Dan jatuh pada hari ini jadi kami memutuskan untuk makan diluar.
            “Rachel, ke toko buku yuk”
            “Ah males, aku mau ke kedai es krim disebelah. Kamu ke toko bukunya sendiri aja”
            “Ih kamu ini, kamu tega liat aku macem anak ilang lagi?”
            “Hmm.. Iyadeh”
Aku ke toko buku sebenarnya tidak ingin membeli buku atau mencari referensi untuk bahan materi makalah. You know what I mean laah... karena biasanya di toko buku ada saja sampul plastik buku yang terbuka akibat perbuatan anak-anak sekolah dan aku termasuk salah satu pelakunya tapi karena sekarang aku sudah besar, jadi peranku hanya sebagai pengguna buku yang sudah dibuka itu. Seharian berjalan-jalan kami kembali kerumah masing-masing dan bersiap untuk menghadapi hari esok yang pastinya melelahkan

**

H
i MONster DAY! Akhirnya kau datang juga dengan sangat tepat waktu. Menghilangkan semua kenangan kemarin dan kini mulai dengan kepenatan dan rutinitas yang begitu membosankan tapi begitu penting untuk masa depanku. Sesampainya dikelas, bertemu dengan teman-teman yang sedang mengobrol satu sama lain, menceritakan bagaimana kesan selama hari libur. Hari ini ada mata kuliah yang paling menyebalkan, saat dosen mk itu masuk dan mengabsensi mahasiswa aku ijin keluar untuk kekamar mandi. Ya, padahal hanya sebuah alasan ku untuk tidak mengikuti mata kuliah tersebut dan nanti aku tinggal menanyakan apa saja kepada Syabil. Secara selain dia tajir dia juga termasuk anak yang pintar. Jadi tak perlu khawatir saat ditanya oleh dosen super bosenin itu.
Waktu yang paling ditunggu saat kuliah adalah waktu dosen gamasuk. Dan saat itulah mahasiwa berpencar kesana kemari mencari apa yang dia suka. Aku dan Syabil satu kelas, lain hal dengan Rachel yang memang berbeda jurusan. Aku duduk didepan kelas sedangkan Syabil menyusul Rachel ke kelasnya. Tiba-tiba ada yang menyodorkan kertas, aku lihat ternyata Dini. Dia adalah temanku juga, teman Rachel dan Syabil juga cuma ya semua berbeda sekarang. Aku menatap kertas flyer itu lalu kembali menatap Dini. Dia hanya tersenyum dihadapanku lalu pergi. Rachel yang datang bersama Syabil mengambil flyer yang sedang aku baca dan kemudian merobeknya.

            “Rachel apa-apaan kamu ini?!”
            “Tadi aku lihat ini dari Dini kan? Ngapain dia ganggu kita lagi”
            “Dia cuma mau memberitahu aku tentang perlombaan kreatif, Chel”
            “Itu cuma akal-akalan dia aja. Dia mau supaya kamu terhasut dan berteman lagi     dengan dia.”
            “Jangan dulu berpikiran yang macam-macam dulu”
Syabil hanya diam sembari menunjukan wajah yang tidak senang. Akhirnya aku meminta maaf dan memperbaiki suasana yang ada. Tapi sungguh disayangkan, saat aku bisa menyalurkan apa yang aku buat untuk ditunjukkan diarea yang lebih luas, temanku sendiri yang melarangku. Tapi aku juga tidak tega menyakiti perasaan mereka yang terlanjur tergoreskan luka. Sebenarnya Rachel juga tidak ingin merobek flyer itu karena tau aku juga membutuhkan itu. Tapi mungkin terlalu kesal karena yang memberitahu adalah Dini makanya dia berbuat seperti itu. Aku memaklumi hal itu dan bagaimana pun aku berterimakasih kepada Dini melalui pesan karena dia telah memberitahukan tentang info itu.

**

O
ke sebelumnya aku akan cerita bagaimana asal mula perpecahan ini terjadi. Dulu kami seperti group Bratz yang pernah muncul di tahun 2005. Kalau kalian pernah mengenal tentang Bratz berarti masa kecil kalian bahagia hehehe. Di Bratz ada empat karakter, yaitu Yasmin, Cloe, Jade dan Sasha. Klo si tajir bin jenius Syabil diumpakan sebagai Yasmin. Kalau aku seperti Cloe, tapi entah apa yang bikin aku diumpakan sebagai Cloe. Aku saja tidak senang dengan olahraga, cuman kata teman-temanku kalau aku punya rasa empati yang tinggi terhadap sesama dan juga tipe yang sangat mensupport teman-teman nya untuk maju. Lalu ada Dini sebagai Jade, sosok orang yang gak akan bicara tanpa fakta dan tidak akan mengambil keputusan tanpa observasi terlebih dahulu. Terakhir ada Sasha yang dijadikan karakter untuk Rachel, dikisahakan kalau dia pecinta musik namun nyata nya Rachel adalah pecinta makanan daripada musik.
Tidak ada waktu yang terlewatkan, kami berempat selalu bersama dalam kondisi apapun. Sampai akhirnya salah satu dari kami menyeleweng dari haluan. Ya, Dini. Dia udah kecantol sama yang namanya cowok. Waktu bersama-sama otomatis jadi berkurang karena dia lebih mengutamakan cowoknya itu dibandingkan kita. Ricky namanya, cowok terpopuler satu kampus. Bayangin SATU KAMPUS, Grrrr.. Ngeri. Semua yang terlihat didalam Ricky ini nyaris semuanya perfect, dari penampilan, aktivitas dan sebagainya. Dan rumor yang paling mengejutkan, Ricky sama sekali belum pernah pacaran atau punya gebetan.
Yakalii cowok kaya dia ga pernah pacaran atau punya gebetan... Pikirku
Dan akhirnya dia melabuhkan cintanya ke Dini yang sama-sama buta akan masalah beginian. So, mereka sama-sama first love. Masa pacaran pasangan sejoli ini kelihatan adem ayem aja, gak pernah denger mereka ribut-ribut atau diem-dieman. Dan juga gak pernah Dini mengeluh ini itu tentang hubungannya dengan Ricky. It’s will be alright, baby. Aku percayakan sama Dini kalau dia bisa bagi waktu antara sahabat dan pacarnya. Tapi disisi lain, Syabil dan Rachel tidak begitu setuju dengan Dini yang sekarang. Aku mencoba buat memberi penjelasan sama mereka tapi ya begitu, awalnya diterima tapi akhirnya sama saja. Dipihak Dini juga merasa benar dengan keputusan dia, dia merasa bisa mengatur waktu antara sahabat dan kekasih sendiri.
Sampai akhirnya berjalan setahun, saat kita duduk dikelas 3 SMA keadaan semakin mencekam. Kubu RS (Rachel & Syabil) sering mengomentari tingkah laku Dini yang semakin hari semakin mementingkan kekasihnya itu. Sedangkan dikubu Dini menjadi kubu yang tetap merasa tidak ada yang salah dan bahkan Dini mengklaim kalau perbuatan dia yang lebih mementingkan Ricky itu sebuah hal yang wajar memang disadari olehnya makin kesini dia tidak meluangkan waktu untuk sahabat-sahabatnya tapi itu tak dihiraukannya. Dan itu sudah melalui proses observasi beberapa waktu yang lalu. Terakhir kubu yang sangat terombang-ambing terbawa angin, yaitu kubu Leny, kubu aku sendiri. Sang penengah yang tidak bisa berbuat banyak karena harus mempertimbangkan secara matang bagaimana caranya mereka bisa akur dan kita bisa bermain bersama lagi.
Memang tidak mudah memaafkan tapi gampang untuk membuat kesalahan. Sudah dilakukan berbagai cara agar kubu R & S bisa memaafkan kubu D tapi selalu gagal. Dan akhirnya jadilah kita seperti ini. “Diem-dieman” seperti orang yang gak mengenal satu sama lain. Dan waktu kelulusan, Dini pergi keluar negeri sama keluarganya dan kabarnya akan tinggal disana. Parahnya dia ga pamitan dulu atau setidaknya menitipkan salama untuk kami. Sudah entah apa yang menjadi alasan Dini bertindak seperti itu. Selang beberapa waktu, Dini mengirim pesan ke e-mailku.
“Leny, ini aku Dini. Bagaimana kabarmu? Kita masih sahabat kan? :’) Aku harap begitu. Maaf aku gak pamitan sama kamu, Syabil dan Rachel saat mau pergi. Aku takut kalian masih marah dan masih menganggap kalau aku salah. Aku pergi ke Malaysia hanya untuk berkunjung ke sanak saudara Ayah, jadi rumor tentang aku akan tinggal diluar negeri jangan dihiraukan ya. Sebenarnya aku capek dengan semua ini Len, apa mereka belum bisa mengerti ya bagaimana ada diposisi ku?
Hmm, yasudahlah. Aku berharap kita bisa seperti dulu. Tapi kalau itu sulit dan tidak bisa lagi, mau diapakan. Kalau kita tidak ketemu lagi, aku gak apa-apa. Toh, jalan kita lebih jauh daripada yang ku kira malam ini. Oh ya,sekitar 2 minggu lagi aku akan pulang ke Indo. Semoga kita bertemu ya nanti J. Titip salamku untuk Rachel dan Syabil.”

**

K
eesokan harinya aku memberitahu Rachel dan Syabil tentang kiriman e-mail dari Dini. Tapi entah kenapa mereka setelah membaca e-mail itu malah terdiam. Aku melihat dari raut wajah Rachel, sepertinya dia juga merasakan hal yang sama dengan Dini begitu juga dengan Syabil. Aku bujuk mereka agar kita bertemu dengan Dini tapi mereka tidak mau. Mungkin gejolak dihatinya masih terasa. Dan aku berharap saat Dini pulang kita bisa menyelesaikan semua ini. Menunggu hari itu memang membuat hati degdegan. Kita jalani hari seperti biasa, sampai waktunya pun datang. Dini menghubungi ku, menagih janji untuk bertemu.
            Aku coba mengajak Syabil dan Rachel untuk bertemu Dini tapi sia-sia. Akhirnya kami bertemu di taman kota, hanya aku, Dini dan bangku taman yang kami duduki. Aku merasa posisi aku itu sangat ekstrim. Alih-alih membujuk untuk baikan, yang ada malah menjadi adu domba. Makanya tiap tindakanku harus dipikirkan dengan matang. Disitu kami mencoba mengobrol bagaimana iktikad baiknya agar kita semua menjadi rukun kembali. Sampai akhirnya aku punya ide untuk bisa memancing mereka satu sama lain bertemu.
            Saat di kampus, aku sengaja membuat mereka bertemu Dini. Dan rasanya itupun belum berhasil, sampai hari ini ketika aku diberi flyer oleh Dini dan mereka melihatnya. Saat itu pula aku pergi menuju kelas dan melihat Dini tertunduk seperti orang menangis. Aku hampiri dia dan memang benar air mata telah membasahi pipinya.
            “Ikut aku sebentar yuk”
            “Kemana?”
            “Depan kelas, kita ngobrol kalau disini terlalu sumpek.”
            “Aku gamau. Selembaran yang aku kasih dirobek-robek kan sam Rachel??”
            “Emmm.. iya, maaf ya. Yasudah yuk, keluar. Hapus air matanya ya”
            Kami berjalan menuju koridor kelas. Aku berjalan pelan mengikuti langkah kaki Dini. Sampai didepan kelas Rachel dan Syabil menyadari kedatangan kami, dan seketika berdiam diri. Aku duduk diantara mereka. Sebelah kanan ku Syabil dan Rachel sedangkan disebelah kiri ku Dini. Kami semua diam sejenak. Sampai Rachel memutuskan pergi dan tempat duduk kami.
            “Chel nanti dulu, aku mau kita selesaikan masalah ini.”
            “Mau selesaikan apa lagi? Sudahlah aku mau masuk ke kelas”
            “Rachel, benar kata Leny sebaiknya kita selesaikan masalah ini. Kamu juga gamau kan terus-terusan kaya gini?”
            Berkat bujukan Syabil akhirnya Rachel kembali duduk. Aku menarik nafas panjang dan mulai berbicara.
            “Ayo mana tangan nya, kita saling memaafkan aja. Ga baik sebenarnya marah atau kesal sama orang lebih dari 3 hari. Lihat sekarang, hampir setahun kan kita diem-dieman? Apa kalian gak kangen main bareng, bercanda bareng, cerita-cerita bareng?”
            Semua terdiam tertunduk saat aku memulai mediasi. Tadinya memang aku ingin berbasa-basi dulu, cuman aku bukan tipe orang yang seperti itu. To the point aja, karena belum tentu dengan awalan yang berbasa-basi itu hasil akhirnya akan jadi bagus.
            “Aku minta maaf Len, Chel, Bil. Aku ga ngerti musti gimana hadepin kalian dan hadepin kondisi aku. Ini emang udah takdir dari yang diatas, kita dikasih hati dan otak untuk kita bisa merasakan dan berpikir secara logis. Nanti kalian juga bakal rasain. Mungkin kalau aku rasain hal ini sulit, karena teman-temanku sendiri tidak ada yang mengerti. Hmm, aku minta maaf Chel, Bil..” (sambil mengulurkan tangannya)
            Suasana yang ramai karena orang lewatpun seketika itu menjadi tidak ada bunyi apa-apa. Dini yang sehabis itu langsung tertunduk, benar-benar seperti orang putus asa. Beberapa menit kemudian..
            “Maafin aku juga ya Din. Kita memang salah” kata Rachel sambil menyambut tangan Dini disusul dengan Syabil.
            “Kita emang gak ngerti rasa itu Din, abis belum ada cowok yang naksir sih hehe maafin aku juga ya Din..”
            Wah... akhirnya mereka mau saling memaafkan. Aku jadi terharu. Sampai tak sadar air mata pun keluar. Mereka berpelukan.
            “Len, ngapain disitu? Sini peluk, kita udah kaya dulu lagi nih”
            “Ya abisnya, yang abis maaf-an malah lupain yang masih duduk disini.”
            “Hehehe.. iyadeh maaf. Ayo sini.. berpelukaaan”
            “Mau diganti ga jadi group Teletubies? Wkwkwk”

            Akhirnya masa sulit pun bisa terlewati. Kami semua bahagia, senyum selalu terpasang diwajah kami. Kami pun memulai suatu hal yang baru, dan kami berusaha saling mengerti satu sama lain. Terasa lebih berwarna sekarang. Pokoknya kali ini tidak bisa dideskripsikan dengan sesuatu apapun dan semoga Aku, Rachel, Dini dan Syabil menjadi BFF (Best Friend Forever). ^__^

13.1.14

Apa yg kamu pikirkan ttg 2014?

2014? absolutely ini tahun yg gempar buat gue. Where I have to determine what would I go through later. Yup! UNIVERSITAS. Dan sepertinya expectation gue bakal sirna untuk yg ke-2 kalinya. Sebagai anak yg nurut sm ortu, gue pasrah dg kemauan mereka untuk stay disini. Coba lo bayangin, semenjak gue berojol sampai gue SMP di satu wilayah yg sama yaitu Cilegon. But sewaktu SMA gue boleh di ijinin untuk sekolah di luar wilayah cilegon, okay fine gue semangat saat itu walaupun ujungnya juga keluarga kecil gue pindah ke Serang.
Akhirnya untuk ngelanjutin jenjang pendidikan selanjutnya gue pingin di luar provinsi biar dan planning nya pengen coba di kota kembang. Eventhough gue gapunya sodara yg tinggal disana yg bisa jd reserve kalo gue butuh bantuan. Because I'm included in easily bored girl, gue ambil resiko itu. Udah ada bayangan gimana pertama kali gue menginjakan kaki disana, dan mungkin gue bakal banyak ngalamin peristiwa 'nyasar di jalan' karna gue gatau gimana real nya kondisi disana. UIN, universitas yg gue tuju. Kenapa musti UIN? Entah apa yg mendorong gue untuk coba masuk kesana, selain karna dorongan sifat gue yg cepet bosen tapi alasan ini yg buat gue kekeh untuk kesana, 'penasaran'. Gue akui itu emg absurd maxi dengernya -__-
Sekarang jalan gue udh di dpn mata, tinggal selengkah deui istilah nya. Mantapkan hati & mental udah, cakupan nilai Insya Allah lumayan, BUT keputusan ortu make all that is destroyed :"(( pupus sudah, alasan nya emg kuat bgt untuk gue gabisa pergi kesana. Duhai~ mungkin ini emg riwayat pendidikan gue kali ya. Gabisa rasain kangen berat sm ortu karna jarak yg jauh, gabisa rasain suka-duka klo lg susah. Tapi yaaaah, gapapa. Allah SWT berarti sayang sm gue, gamau gue pisah jarak sm ortu gue, hiks! Apapun univ yg gue masuki nanti yg penting ga memudarkan cita-cita gue untuk jadi *********** cayooooo!!! ^^v  
*iklan*
mau upload foto yg ke cancel dulu yaa.. ^^v

                                                                [ at BPTP Banten Ciruas ]

                                                       
                                                          [ at Gerabah Gallery Ciruas ]      
                          

                                             [ at Museum Sejarah Banten & Benteng ]


Finally, rata-rata foto pribadi sih tp tak apalah wkwkwk yg penting ada 'sedikit' keliatan tempat kunjungan nya LOL.
OK, gada utang piutang lg kan ane? sip! /apasih/ -____-