***
E
|
mbun
dipagi buta, menebarkan bau basah... kutipan lirik
lagu yang pernah menjadi booming
dikalangan teman-temanku ini emang pas banget buat mendeskripsikan suasana
pagi. Ya, memang semalam hujan deres banget sampai kolam ikan samping rumah
kepenuhan dan para ikan beserta embel-embelnya
mencuat keluar menuju zona bahaya. So, pantes saja kalau embun pagi belakangan
ini terlalu menebarkan bau basah. Aku minum susu coklat yang sudah sedari tadi
gak aku hirauin, karena takut keburu dingin (bukan berarti bakal muncul es
dalam gelasnya -_-). Hari ini terasa lebih santai dari hari biasanya, because
today is WEEKEND!!! Dimana aku bisa
lupain “sejenak” tugas-tugas dari dosen yang gak ada abisnya. Bergelut terus
dengan yang namanya makalah dan presentasi dengan deadline satu minggu setelah pembagian judul makalah yang
sebenarnya sudah mual level 3, macam mie buto ijo didaerah Jawa yang level
tertinggi pedasnya yaitu level 3 dengan 54 cabe rawit. Bisa dibayangkan efeknya
seperti apa. Aku beranjak dari meja makan dan menuju bantalan kapuk berbalut
kain dan menonton acara ditelevisi. Ditengah tontonan, hp ku berbunyi pertanda
ada pesan yang masuk dan aku tau pesan dari siapa itu. “Len, don’t forget our meet up okay!^^” . akupun bergegas mandi dan
segala macam. Sebagai anak yang baik, tak lupa untuk berpamitan dengan
orangtuaku yang sedang bercengkrama di taman belakang rumah.
Girl’s time!!!
Sesuai dengan judulnya sekarang waktunya hangout
bareng temen-temen. Mereka sudah menunggu didepan rumah dan kami pun bergegas
pergi menuju mall. Dan kini saatnya aku memperkenalkan mereka, ya,
sahabat-sahabatku. Samping kanan dikursi kemudi ada Syabil, dia anak juragan
tanah. Tanah orangtuanya tersebar diseluruh pelosok Indonesia. Aku sempat heran
kenapa Syabil lebih memilih melanjutkan studinya dikampus ini, yang aku rasa
dia pasti bakal dapat yang lebih baik dan lebih bagus. Saat aku menanyakan hal
itu, hanya senyuman penuh misteri pertanda kalau aku tidak usah menanyakan hal
itu lagi. Lalu dibangku belakang ada si chiby marukocan, Rachel. Sebenarnya aku
dan dia teman sewaktu taman kanak-kanak dan baru bertemu lagi saat masuk
sekolah menengah atas. Sesampainya kami di sebuah resto yang baru saja launching minggu kemarin, kami
memastikan kalau kami adalah pelanggan pertama hari ini.
“Mba,
apa semua yang ada didaftar menu sudah bisa dipesan?”
“Sudah,
mau pesan apa?”
“Bla..bla...blaa...”
Aku
bertanya seperti itu karena takut resto ini memang benar-benar baru buka. Aku
lihat raut wajah Rachel yang mungkin tidak sabar menunggu hidangan datang. Aku
heran, dia mempunyai badan yang tidak terlalu berisi dengan pipinya yang chubby tapi punya porsi makan yang sangat
besar dan entah kemana larinya makanan-makanan itu. Sudah terhitung empat tahun
kami menjalin pertemanan. Dan jatuh pada hari ini jadi kami memutuskan untuk
makan diluar.
“Rachel,
ke toko buku yuk”
“Ah
males, aku mau ke kedai es krim disebelah. Kamu ke toko bukunya sendiri aja”
“Ih
kamu ini, kamu tega liat aku macem anak ilang lagi?”
“Hmm..
Iyadeh”
Aku
ke toko buku sebenarnya tidak ingin membeli buku atau mencari referensi untuk
bahan materi makalah. You know what I
mean laah... karena biasanya di toko buku ada saja sampul plastik buku yang
terbuka akibat perbuatan anak-anak sekolah dan aku termasuk salah satu
pelakunya tapi karena sekarang aku sudah besar, jadi peranku hanya sebagai
pengguna buku yang sudah dibuka itu. Seharian berjalan-jalan kami kembali
kerumah masing-masing dan bersiap untuk menghadapi hari esok yang pastinya
melelahkan
**
H
|
i MONster DAY!
Akhirnya kau datang juga dengan sangat tepat waktu. Menghilangkan semua
kenangan kemarin dan kini mulai dengan kepenatan dan rutinitas yang begitu
membosankan tapi begitu penting untuk masa depanku. Sesampainya dikelas,
bertemu dengan teman-teman yang sedang mengobrol satu sama lain, menceritakan
bagaimana kesan selama hari libur. Hari ini ada mata kuliah yang paling
menyebalkan, saat dosen mk itu masuk dan mengabsensi mahasiswa aku ijin keluar
untuk kekamar mandi. Ya, padahal hanya sebuah alasan ku untuk tidak mengikuti
mata kuliah tersebut dan nanti aku tinggal menanyakan apa saja kepada Syabil.
Secara selain dia tajir dia juga termasuk anak yang pintar. Jadi tak perlu
khawatir saat ditanya oleh dosen super bosenin itu.
Waktu
yang paling ditunggu saat kuliah adalah waktu dosen gamasuk. Dan saat itulah
mahasiwa berpencar kesana kemari mencari apa yang dia suka. Aku dan Syabil satu
kelas, lain hal dengan Rachel yang memang berbeda jurusan. Aku duduk didepan
kelas sedangkan Syabil menyusul Rachel ke kelasnya. Tiba-tiba ada yang
menyodorkan kertas, aku lihat ternyata Dini. Dia adalah temanku juga, teman
Rachel dan Syabil juga cuma ya semua berbeda sekarang. Aku menatap kertas flyer itu lalu kembali menatap Dini. Dia
hanya tersenyum dihadapanku lalu pergi. Rachel yang datang bersama Syabil
mengambil flyer yang sedang aku baca dan kemudian merobeknya.
“Rachel
apa-apaan kamu ini?!”
“Tadi
aku lihat ini dari Dini kan? Ngapain dia ganggu kita lagi”
“Dia
cuma mau memberitahu aku tentang perlombaan kreatif, Chel”
“Itu
cuma akal-akalan dia aja. Dia mau supaya kamu terhasut dan berteman lagi dengan dia.”
“Jangan
dulu berpikiran yang macam-macam dulu”
Syabil
hanya diam sembari menunjukan wajah yang tidak senang. Akhirnya aku meminta
maaf dan memperbaiki suasana yang ada. Tapi sungguh disayangkan, saat aku bisa
menyalurkan apa yang aku buat untuk ditunjukkan diarea yang lebih luas, temanku
sendiri yang melarangku. Tapi aku juga tidak tega menyakiti perasaan mereka
yang terlanjur tergoreskan luka. Sebenarnya Rachel juga tidak ingin merobek
flyer itu karena tau aku juga membutuhkan itu. Tapi mungkin terlalu kesal
karena yang memberitahu adalah Dini makanya dia berbuat seperti itu. Aku
memaklumi hal itu dan bagaimana pun aku berterimakasih kepada Dini melalui
pesan karena dia telah memberitahukan tentang info itu.
**
O
|
ke
sebelumnya aku akan cerita bagaimana asal mula perpecahan ini terjadi. Dulu
kami seperti group Bratz yang pernah
muncul di tahun 2005. Kalau kalian pernah mengenal tentang Bratz berarti masa kecil kalian bahagia hehehe. Di Bratz ada empat
karakter, yaitu Yasmin, Cloe, Jade dan Sasha. Klo si tajir bin jenius Syabil
diumpakan sebagai Yasmin. Kalau aku seperti Cloe, tapi entah apa yang bikin aku
diumpakan sebagai Cloe. Aku saja tidak senang dengan olahraga, cuman kata
teman-temanku kalau aku punya rasa empati yang tinggi terhadap sesama dan juga
tipe yang sangat mensupport
teman-teman nya untuk maju. Lalu ada Dini sebagai Jade, sosok orang yang gak
akan bicara tanpa fakta dan tidak akan mengambil keputusan tanpa observasi
terlebih dahulu. Terakhir ada Sasha yang dijadikan karakter untuk Rachel, dikisahakan
kalau dia pecinta musik namun nyata nya Rachel adalah pecinta makanan daripada
musik.
Tidak
ada waktu yang terlewatkan, kami berempat selalu bersama dalam kondisi apapun.
Sampai akhirnya salah satu dari kami menyeleweng dari haluan. Ya, Dini. Dia
udah kecantol sama yang namanya cowok. Waktu bersama-sama otomatis jadi
berkurang karena dia lebih mengutamakan cowoknya itu dibandingkan kita. Ricky
namanya, cowok terpopuler satu kampus. Bayangin SATU KAMPUS, Grrrr.. Ngeri. Semua yang terlihat
didalam Ricky ini nyaris semuanya perfect, dari penampilan, aktivitas dan sebagainya.
Dan rumor yang paling mengejutkan, Ricky sama sekali belum pernah pacaran atau
punya gebetan.
Yakalii cowok kaya dia
ga pernah pacaran atau punya gebetan...
Pikirku
Dan
akhirnya dia melabuhkan cintanya ke Dini yang sama-sama buta akan masalah beginian.
So, mereka sama-sama first love. Masa
pacaran pasangan sejoli ini kelihatan adem ayem aja, gak pernah denger mereka
ribut-ribut atau diem-dieman. Dan juga gak pernah Dini mengeluh ini itu tentang
hubungannya dengan Ricky. It’s will be
alright, baby. Aku percayakan sama Dini kalau dia bisa bagi waktu antara
sahabat dan pacarnya. Tapi disisi lain, Syabil dan Rachel tidak begitu setuju
dengan Dini yang sekarang. Aku mencoba buat memberi penjelasan sama mereka tapi
ya begitu, awalnya diterima tapi akhirnya sama saja. Dipihak Dini juga merasa
benar dengan keputusan dia, dia merasa bisa mengatur waktu antara sahabat dan
kekasih sendiri.
Sampai
akhirnya berjalan setahun, saat kita duduk dikelas 3 SMA keadaan semakin
mencekam. Kubu RS (Rachel & Syabil) sering mengomentari tingkah laku Dini
yang semakin hari semakin mementingkan kekasihnya itu. Sedangkan dikubu Dini
menjadi kubu yang tetap merasa tidak ada yang salah dan bahkan Dini mengklaim
kalau perbuatan dia yang lebih mementingkan Ricky itu sebuah hal yang wajar
memang disadari olehnya makin kesini dia tidak meluangkan waktu untuk
sahabat-sahabatnya tapi itu tak dihiraukannya. Dan itu sudah melalui proses
observasi beberapa waktu yang lalu. Terakhir kubu yang sangat terombang-ambing
terbawa angin, yaitu kubu Leny, kubu aku sendiri. Sang penengah yang tidak bisa
berbuat banyak karena harus mempertimbangkan secara matang bagaimana caranya
mereka bisa akur dan kita bisa bermain bersama lagi.
Memang
tidak mudah memaafkan tapi gampang untuk membuat kesalahan. Sudah dilakukan
berbagai cara agar kubu R & S bisa memaafkan kubu D tapi selalu gagal. Dan
akhirnya jadilah kita seperti ini. “Diem-dieman”
seperti orang yang gak mengenal satu sama lain. Dan waktu kelulusan, Dini pergi
keluar negeri sama keluarganya dan kabarnya akan tinggal disana. Parahnya dia
ga pamitan dulu atau setidaknya menitipkan salama untuk kami. Sudah entah apa
yang menjadi alasan Dini bertindak seperti itu. Selang beberapa waktu, Dini
mengirim pesan ke e-mailku.
“Leny, ini aku Dini.
Bagaimana kabarmu? Kita masih sahabat kan? :’) Aku harap begitu. Maaf aku gak
pamitan sama kamu, Syabil dan Rachel saat mau pergi. Aku takut kalian masih
marah dan masih menganggap kalau aku salah. Aku pergi ke Malaysia hanya untuk
berkunjung ke sanak saudara Ayah, jadi rumor tentang aku akan tinggal diluar
negeri jangan dihiraukan ya. Sebenarnya aku capek dengan semua ini Len, apa
mereka belum bisa mengerti ya bagaimana ada diposisi ku?
Hmm, yasudahlah. Aku
berharap kita bisa seperti dulu. Tapi kalau itu sulit dan tidak bisa lagi, mau
diapakan. Kalau kita tidak ketemu lagi, aku gak apa-apa. Toh, jalan kita lebih
jauh daripada yang ku kira malam ini. Oh ya,sekitar 2 minggu lagi aku akan pulang
ke Indo. Semoga kita bertemu ya nanti J. Titip salamku untuk
Rachel dan Syabil.”
**
K
|
eesokan
harinya aku memberitahu Rachel dan Syabil tentang kiriman e-mail dari Dini.
Tapi entah kenapa mereka setelah membaca e-mail itu malah terdiam. Aku melihat
dari raut wajah Rachel, sepertinya dia juga merasakan hal yang sama dengan Dini
begitu juga dengan Syabil. Aku bujuk mereka agar kita bertemu dengan Dini tapi
mereka tidak mau. Mungkin gejolak dihatinya masih terasa. Dan aku berharap saat
Dini pulang kita bisa menyelesaikan semua ini. Menunggu hari itu memang membuat
hati degdegan. Kita jalani hari seperti biasa, sampai waktunya pun datang. Dini
menghubungi ku, menagih janji untuk bertemu.
Aku coba mengajak Syabil dan Rachel
untuk bertemu Dini tapi sia-sia. Akhirnya kami bertemu di taman kota, hanya
aku, Dini dan bangku taman yang kami duduki. Aku merasa posisi aku itu sangat
ekstrim. Alih-alih membujuk untuk baikan, yang ada malah menjadi adu domba.
Makanya tiap tindakanku harus dipikirkan dengan matang. Disitu kami mencoba
mengobrol bagaimana iktikad baiknya agar kita semua menjadi rukun kembali.
Sampai akhirnya aku punya ide untuk bisa memancing mereka satu sama lain
bertemu.
Saat di kampus, aku sengaja membuat
mereka bertemu Dini. Dan rasanya itupun belum berhasil, sampai hari ini ketika
aku diberi flyer oleh Dini dan mereka melihatnya. Saat itu pula aku pergi
menuju kelas dan melihat Dini tertunduk seperti orang menangis. Aku hampiri dia
dan memang benar air mata telah membasahi pipinya.
“Ikut aku sebentar yuk”
“Kemana?”
“Depan kelas, kita ngobrol kalau disini
terlalu sumpek.”
“Aku gamau. Selembaran yang aku
kasih dirobek-robek kan sam Rachel??”
“Emmm.. iya, maaf ya. Yasudah yuk,
keluar. Hapus air matanya ya”
Kami berjalan menuju koridor kelas.
Aku berjalan pelan mengikuti langkah kaki Dini. Sampai didepan kelas Rachel dan
Syabil menyadari kedatangan kami, dan seketika berdiam diri. Aku duduk diantara
mereka. Sebelah kanan ku Syabil dan Rachel sedangkan disebelah kiri ku Dini.
Kami semua diam sejenak. Sampai Rachel memutuskan pergi dan tempat duduk kami.
“Chel nanti dulu, aku mau kita
selesaikan masalah ini.”
“Mau selesaikan apa lagi? Sudahlah
aku mau masuk ke kelas”
“Rachel, benar kata Leny sebaiknya
kita selesaikan masalah ini. Kamu juga gamau kan terus-terusan kaya gini?”
Berkat bujukan Syabil akhirnya
Rachel kembali duduk. Aku menarik nafas panjang dan mulai berbicara.
“Ayo mana tangan nya, kita saling
memaafkan aja. Ga baik sebenarnya marah atau kesal sama orang lebih dari 3
hari. Lihat sekarang, hampir setahun kan kita diem-dieman? Apa kalian gak
kangen main bareng, bercanda bareng, cerita-cerita bareng?”
Semua terdiam tertunduk saat aku
memulai mediasi. Tadinya memang aku ingin berbasa-basi dulu, cuman aku bukan
tipe orang yang seperti itu. To the point
aja, karena belum tentu dengan awalan yang berbasa-basi itu hasil akhirnya akan
jadi bagus.
“Aku minta maaf Len, Chel, Bil. Aku
ga ngerti musti gimana hadepin kalian dan hadepin kondisi aku. Ini emang udah
takdir dari yang diatas, kita dikasih hati dan otak untuk kita bisa merasakan
dan berpikir secara logis. Nanti kalian juga bakal rasain. Mungkin kalau aku
rasain hal ini sulit, karena teman-temanku sendiri tidak ada yang mengerti.
Hmm, aku minta maaf Chel, Bil..” (sambil mengulurkan tangannya)
Suasana yang ramai karena orang
lewatpun seketika itu menjadi tidak ada bunyi apa-apa. Dini yang sehabis itu
langsung tertunduk, benar-benar seperti orang putus asa. Beberapa menit
kemudian..
“Maafin aku juga ya Din. Kita memang
salah” kata Rachel sambil menyambut tangan Dini disusul dengan Syabil.
“Kita emang gak ngerti rasa itu Din,
abis belum ada cowok yang naksir sih hehe maafin aku juga ya Din..”
Wah... akhirnya mereka mau saling
memaafkan. Aku jadi terharu. Sampai tak sadar air mata pun keluar. Mereka
berpelukan.
“Len, ngapain disitu? Sini peluk,
kita udah kaya dulu lagi nih”
“Ya abisnya, yang abis maaf-an malah
lupain yang masih duduk disini.”
“Hehehe.. iyadeh maaf. Ayo sini..
berpelukaaan”
“Mau diganti ga jadi group
Teletubies? Wkwkwk”
Akhirnya masa sulit pun bisa
terlewati. Kami semua bahagia, senyum selalu terpasang diwajah kami. Kami pun
memulai suatu hal yang baru, dan kami berusaha saling mengerti satu sama lain.
Terasa lebih berwarna sekarang. Pokoknya kali ini tidak bisa dideskripsikan
dengan sesuatu apapun dan semoga Aku, Rachel, Dini dan Syabil menjadi BFF (Best
Friend Forever). ^__^